Home / Ekonomi & Bisnis / Larangan UE Terkait ekspor CPO Indonesia Pengaruhi Harga TBS Sulbar

Larangan UE Terkait ekspor CPO Indonesia Pengaruhi Harga TBS Sulbar

Spread the love
  • 2
    Shares

Rapat Tim Penetapan Harga Tandan Buah Segar (TBS) Sulawesi Barat, Kamis (4/04/2019)

Mamuju – Larangan Uni Eropa bertajuk Delegated Regulation Supplementing Directive of The EU Renewable Energy Directive II (RED II) terhadap ekspor Sawit indonesia sebagai bahan baku pembuatan bahan bakar nabati cukup berpengaruh bagi peningkatan harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit Sulawesi Barat.

Untuk bulan Maret 2019 harga TBS Sawit di Sulawesi Barat bisa dikatakan stagnan meski mengalami kenaikan hanya beberapa sen saja.

Tim penetapan TBS yang diketuai oleh Kepala Bidang (Kabid) Produksi Perkebunan Dinas Pertanian Sulbar, Abd. Waris Bestari menetapkan harga TBS untuk bulan maret hanya mengalami kenaikan 82 sen saja dari bulan sebelumnya.

“Setelah dilakukan verifikasi dari data-data yang masuk maka berdasarkan hasil repat tim Indeks K kita tetapkan 77 persen, dengan harga yang tertinggi 1.036,07 sen,” kata Waris saat menetapkan harga TBS di kantornya, Kamis (04/04/19).

Dimana pada bulan Maret 2019 yang lalu, tim penetapan TBS Sulbar menetapkan harga TBS sebesar Rp. 1.035,23 dengan indeks K 77.

Dewan Pembinan Gapki Area Sulawesi, Muchtar Tanong yang turut hadir dalam penetapan mengungkapkan, larangan ekspor minyak sawit (CPO) dari Indonesia ke Uni Eropa (UE) turut berpengaruh terhadap stagnannya harga sawit.

“Harga-harga sawit itu kan harga Internasional, jadi bagaimana pun jika terjadi gejolak harga di pasar dunia pasti akan berpengaruh. Uni Eropa sekarang sudah mulai lagi mempermasalahkan sawit kita, jadi kami harus berjuang untuk bisa mencari jalan keluarnya,” ungkap Muchtar.

Muchtar menuturkan, pemerintah harus bisa mencari jalan keluar untuk mengatasi larangan ekspor UE ini, menurutnya ada dua jalan yang bisa ditempuh oleh pemerintah tekait persoalan CPO ini.

“Jadi secara eksternal kita (pemerintah) harus cari pasar baru untuk menjual CPO dan secara internal, dalam negeri kita ini harus mencari jalan untuk bagaimana CPO itu bisa berdaya guna dalam negeri,” tutur Muchtar.

Jika masalah ini bisa diatasi oleh pemerintah, maka bukan tidak mungkin harga TBS kedepan bisa semakin membaik.

About Fathir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!