Home / Ekonomi & Bisnis / Efektifkan Fungsi Pendampingan, KPH Karossa Bagi Tiga Wilayah Kerja

Efektifkan Fungsi Pendampingan, KPH Karossa Bagi Tiga Wilayah Kerja

Spread the love

Mamuju Tengah — Dalam rangka mengefektifkan tugas dan fungsi Pengawasan dan pendampingan hutan produksi untuk program perhutanan sosial di wilayah Kabupaten Mamuju Tengah, Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Karossa merupakan UPTD Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) membagi wilayah kerjanya menjadi tiga bagian.

Pembagian wilayah tersebut terdiri dari Resort Pengelolaan Hutan (RPH) Wilayah I Sanjango, RPH Wilayah II Salubiro, dan RPH Wilayah III Salubijau. dengan luas pengawasan hutan yang dikelola 63.050 hektar.

Kepala KPH Karossa, Asri Armal menjelaskan, Program Nasional seperti perhutanan sosial merupakan bagian dari program Kementerian LHK (Lingkungan Hidup dan Kehutanan). Program tersebut, sebagai solusi untuk memberi jawaban atas permasalahan yang ada di kawasan hutan.

“Perhutanan sosial sebagai program pemerintah untuk memberdayakan masyarakat yang ada di dalam kawasan Hutan tersebut. Sehingga diharapkan, selain hutan menjadi produktif juga masyarakat turut serta dalam menjaga keberlangsungan ekosistem dan kelestarian kawasan hutan,” ujar Asri, Senin (04/03/2019).

Penetapan kawasan hutan kemasyarakatan atau perhutanan sosial melalui koordinasi yang melibatkan stakeholder terkait dalam kelompok kerja (pokja). Dalam program perhutanan social yaitu beberapa tanaman produktif pun dikembangkan seperti kayu-kayuan, termasuk sistem agroforesty.

“Intinya bahwa pemerintah berharap bagaimana masarakat bisa sejahtera dengan pola menanam tanaman produktif, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kawasan hutan tetap lestari. Bagimana masyarakat dapat membangun hutan dengan pola mandiri,” jelasnya.

SK pokja yang beranggotakan Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (BPSKL), Dishut, KPH, OPD terkait di tingkat kabupaten, LSM, dan pemerhati kehutanan diterbitkan oleh Gubernur Sulbar.
Ini diharapkan dapat membantu masyarakat guna meningkatkan pendapatan secara ekonomi, sekaligus ikut membantu dalam pelestarian hutan.

Kelompok tani maupun gabungan kelompok tani di wilayah KPH Karossa saat ini tengah mengembangkan tanaman serei wangi (bahan baku untuk obat-obatan, kosmetik, dan bahan penelitian), serta gula semut.
Bahkan, tanaman bukan hasil hutan pengembangannya direncanakan di wilayah KPH Kaross seperti dammar, rotan. Kayu gaharu akan dikembangkan di areal sekitar 75 hektar.

Penulis : (An/Suar)
Editor : Iqbal Tabah

About Fathir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!